Tags

, , , , , ,

PROKLAMASI 17 Agustus 1945 M atau 9 Ramadhan 1364 H, pada hari Jum’at Legi, pukul 10.00 pagi Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB) (#lengkap banget’) merupakan puncak keberhasilan perjuangan umat Islam sebagai mayoritas bangsa Indonesia, dalam upaya membebaskan bangsa dan negara dari penaahan Barat dan Timur. Bukan berlebihan saya menyebutkan perjuangan umat  Islam, sebab memang itulah faktanya. 99% para pencetus kemerdekaan Indonesia mereka semua adalah seorang muslim. Bahkan sang bapak Proklamator pun adalah seorang muslim.

Diawali dengan perjuangan melawan penjajah Kerajaan Katolik Portugis dan Spanyol pada abad ke-16, diikuti dengan perlawanan terhadap penjajah Kerajaan Prostestan Belanda dan Inggris pada abad ke-17. Di antara kedua penjajah Protestan datanglah pula penjajah Kerajaan Katolik Perancis atau Gubernur Jendral Daendels pada 1808-1811. Selanjutnya berlangsung hingga abad ke-20, ulama dan umat Islam Indonesia terus melancarkan perlawanan terhadap penjajah Kerajaan Protestan Belanda atau Pemerintah Kolonial Belanda. Misi mereka (penjajah) itu adalah 3G (Gold, Glory, Gospel).

Proklamator dengan dorongan para ulama, di Puluhan Pertama Ramadhan sebagai Puluhan Rahmat, 9 Ramadhan 1364 H, berani membacakan Proklamasi 17 Agustus 1945. Tidak gentar terahadap Amerika Serikat yang mendemonstrasikan bom pemusnah manusia dan lingkungan hidup di Jepang. Dan Amerika Serikat siap membantu Kerajaan Protestan Belanda akan menjajah kembali Indonesia. Dengan semangat jihad, dan terpanggil oleh Bung Tomo melalui Radio Pemberontakan, umat Islam melancarkan perlawanan terhadap usaha penjajahan kembali Belanda, yang dibantu Inggris, dan AS dalam Perang Gerilya (1945-1950). Walaupun hanya bersenjatakan Bambu Runcing yang dianugerahkan oleh Kiai Subehi Magelang, Jawa Tengah.Umat Islam Bandung melancarkan serangan heroik, disertai dengan gerakan bumi hangus membakar rumah dan kota Bandung, hingga Bandung menjadi Lautan Api. Suatu keberanian yang luar biasa dan pengorbanan harta yang akbar, disertai pengorbanan jiwa raga dalam membela dan menegakkan Proklamasi 17 Agustus 1945.

Oleh karena itu, kemerdekaan oleh para pendahulu, dinilai dan dituliskan dalam Pembukaan Undang – Undang Dasar 1945, terwujudnya hanya karena berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, maka bangsa dan negara Indonesia menjadi merdeka. Perumusan penilaian yang demikian ini karena dirumuskan oleh para ulama bersama pemuka nasional yang beragama Islam semuanya.

Para ulama bersama pemimpin nasional, sehari setelah Proklamasi, 18 Agustus atau 10 Ramadhan 1364, terdiri dari:

  • Wahid Hasyim (Nahdlatul Ulama)
  • Ki Bagus Hadikusumo (Muhammadiyah)
  • Kasman Singodimejo (Muhammadiyah)
  • Mohammad Hatta (Sumatera Barat)
  • Teuku Mohammad Hasan (Aceh)

Berhasil merumuskan ideologi Pancasila dan konstitusi Undang – Undang Dasar 1945. Kemudian diserahkan untuk disahkan kepada dan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia-PPKI di Jakarta, Sabtu, 18 Agustus 1945 atau 10 Ramadhan 1364. Mungkinkah bangsa Indonesia merdeka, bila tanpa peran aktif ulama?

Di dalam Pembukaan UUD 1945, dirumuskan lawan bangsa dan negara Indonesia adalah penjajah – imperialisme dan kapitalisme. Lawannya bukan antar etnis bangsa Indonesia. Bukan pula bangsa asing lainnya. Melainkan seperti yang dirumuskan dalam Pembukaan tersebut, tekadnya akan menghapuskan penjajahan di atas dunia. Bukan hanya sebatas di tanah air Indonesia, tapi seluruh dunia.

Sumber: Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, KH. Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, PhD. *dengan sedikit revisi