Tags

, , , ,

Ada yang berbeda dalam perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) yang ke-66 ini. Pada tanggal 17 Agustus 1945 M bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan 1432 H. Biasanya seminggu sebelum tanggal 17 Agustus banyak rumah – rumah mengibarkan sang merah putih. Lalu, panitia 17an mulai sibuk membuat proposal dan meminta sumbangan ke setiap warga. Tapi, sampai saat ini, entah kenapa saya belum mencium aroma bakal ramai HUT RI kali ini.

Mungkin karena berbarengan dengan bulan puasa, terlihat banyak yang tidak antusias untuk memperingatinya. Ada banyak alasan yang membuat mereka tidak antusias, diantaranya: terlalu lelah karena berpuasa, takut ngeganggu ibadah (*tidur kali, hehe) di bulan puasa, dan masih banyak lagi. Di daerah rumah saya pun sepertinya tidak ada tanda – tanda mau mengadakan acara untuk meramaikan agenda tahunan ini. Bahkan 17 Agustus tahun ini merupakan hari kemerdekaan yang paling menyebalkan bagi saya, sebab saya tetap harus ke kampus untuk melaksanakan ujian akhir (*curhat dikit, hehehe).

Pada tanggal itu juga bertepatan dengan malam Nuzulul Qur’an atau malam yang diyakini sebagai malam diturunkannya Al-Qur’an. Sebagaian umat muslim banyak yang memperingatinya dengan berbagai macam cara. Tapi yang terpenting bukan hanya memperingati saja, tetapi bagaimana dari peringatan tersebut kita dapat mengambil hikmah yang terkandung dalam malam Nuzulul Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari – hari.

Sama seperti peringatan HUT RI ke-66 ini. Yang terpenting dari peringatan HUT RI ini adalah bagaimana kita dapat melanjutkan perjuangan para pahlawan kita terdahulu melawan penjajah. Kok penjajah sih?? Emangnya kita masih dijajah ya?? Penjajah disini bukan para prajurit Belanda yang membawa senjata dan tank baja, tetapi penjajah modern. Yaitu, kebodohan, kemiskinan, moral bangsa yang rusak, perpecahan, dan pengaruh buruk bangsa barat yang lambat laun memaksa bangsa Indonesia terjajah oleh masalah tersebut. Momen bulan puasa ini mungkin saat yang tepat untuk rapatkan barisan berjuang melawan penjajah modern ini.

Banyak cara yang kita lakukan dalam memperingati 17an kali ini yang berada dalam suasana Ramadhan. Kita bisa memperingatinya dengan cara yang bermacam – macam meski kita berada dalam suasana bulan Ramadhan. Misalnya, karena bersamaan dengan bulan puasa dan kebetulan juga bertepatan dengan malam Nuzulul Qur’an, pada malam 17 kita bisa mengadakan tabligh akbar tasyakuran memperingati malam Nuzulul Qur’an dan HUT RI. Atau bisa juga kita mengadakannya ketika berbuka puasa dengan mengundang anak yatim dan kaum duafa. Jadi, bagaimana caranya kita memperingati momen penting negara tercinta kita ini sambil tidak menyia – niyiakan mendulang pahala di bulan yang penuh rahmat ini.

Menunjukkan rasa nasionalisme memang tidak harus meramaikannya dengan kita membuat suatu acara yang besar, tapi dengan kontribusi yang kita lakukan untuk negara tercinta ini.

Mudah – mudahan artikel ini bisa bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya meskipun tulisannya acak – acakan, hehehe😀

Merdeka ! Allahu Akbar !